Jika dunia dari sang jiwa yang fana adalah sebuah bola kaca.. dan tahu jika dunianya adalah dunia yang rapuh, ingin rasanya dia hancurkan dunianya hingga menjadi berkeping-keping
Kemudian jiwa yang rapuh itu akan diam, statis, tidak melakukan apapun juga, sampai pada akhirnya kematian yang menjemput atau jika memang tidak ada harapan lagi biarlah ia yang akan menghampiri kematian
Rasanya semuanya begitu hampa, tidak nyata. Merasa sendiri, dikucilkan, tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi. Bahkan orang yang paling dekat pun seperti tidak perduli. Kembali lagi pada sang jiwa, maka jiwa yang tak berdaya itu yang akan disalahkan, selalu sang jiwa yang selalu salah.. Bisakah mereka membuka mata bahwa jiwa itu pun sama seperti mereka? dan mereka lebih memilih untuk membuat sang jiwa semakin rapuh daripada merengkuhnya, adakah seseorang normal di dunia ini yang masih bisa mendengar teriakannya?
Ingin rasanya dia berlari meninggalkan semuanya. Meninggalkan apa yang dia cintai, yang dia miliki yang dia percayai. Karena sudah tak ada satupun yang bisa mengembalikannya pada jiwanya yang asli. Jiwanya terpenjara di dimensi lain, di jiwa yang lain yang entah siapa. Yang pasti dia sudah tidak mampu lagi mengenali siapa dirinya.. Mengapa ada banyak hal yang terjadi di dunia ini dan menyakitinya? Membuatnya begitu lemah. Tak adakah sayap malaikat yang kokoh yang bisa merengkuhnya, untuk sementara saja? tidak perlu selamanya, hanya untuk membuatnya merasa nyaman dan kemudian jika sang jiwa itu sudah kuat dan mampu kembali mengepakkan sayapnya lagi, malaikat itu bisa melepaskan rengkuhan sayapnya namun tidak meninggalkannya.
Dunia yang fana ini rasanya seperti.. sudah kehilangan nyawa. Dunia ini rasanya seperti sudah tidak memiliki jiwa sebagai dunia. Berbeda dengan ketika pertama kali dunia diciptakan di dalam Kitab Kejadian dari Perjanjian Lama.. Ketika itu Tuhan Allah melihatnya sungguh sangat baik. Apakah ini adalah salah dari sang jiwa jika dunia itu tidak lagi menjadi baik ? Ataukah ini salah dari dosa asal Adam dan Hawa, hingga akhirnya dia harus menerima segala sesuatunya sekarang? Apakah ini karma yang berbicara? Karena telah banyak orang yang mungkin merasa disakiti oleh dia. Akal sehat sudah tidak mampu lagi berbicara.
Dia hanya ingin melepaskan semuanya, meninggalkan semua yang dia cintai, yang juga telah menyakitinya. Kembali menjadi dirinya sendiri dan melepaskan dunia lamanya, berharap mampu menjadi manusia baru yang akan memberinya kelegaan, walaupun sedikit. Menemukan dunia baru dimana dia bisa tertawa bukannya berduka. Bisa bernapas lega bukannya merasa hampa.
Dia telah banyak mengamati, merasakan dan akhirnya hampir menyerah.. Sudah tidak bisa lagi merasakan bagaimana rasanya menjadi bahagia. Dia hanya ingin pergi sejauh mungkin, seperti yang tadi sudah kukatakan.
Di tengah tawanya, di tengah sorot matanya, di tengah kekuatannya, dia punya kelemahan yang luar biasa besarnya, dan dia berusaha untuk menyakinkan dirinya akan baik-baik saja, sampai pada akhirnya dia menyerah dan sudah tidak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidupnya. Tidak ada yang mengajarkan padanya bagaimana menjadi bahagia itu, bahkan dia sudah lupa rasanya menjadi bahagia. Dia coba untuk tertawa ketika mendengar sesuatu yang lucu atau yang dirasa bisa membuatnya bahagia, dan dia sangat menikmati waktu-waktu itu, ketika tawanya sudah lenyap, dia sadar bahwa tawanya itu hampa dan tanpa jiwa.
Sampai pada suatu ketika, dia sadar bahwa semuanya tidak akan kembali seperti dulu. Dunianya sudah hilang, dia tidak mengenal lagi yang namanya bahagia, tawa bukan lagi miliknya. Yang dia dapati ketika dia sadar, pergelangan tangannya sudah berlumuran darah. Dia goreskan segala luka yang pernah dia rasa di tembok kamarnya dengan darah yang mengalir setetes demi setetes ke lantai kamarnya yang putih.
Ini bukan aku
Dimana duniaku?
Dimana mereka?
Hate.
Itu yang dituliskan di tembok kamarnya hingga penuh dengan noda darah. Dia lafalkan namanya kembali.. Nama yang diberikan orang tuanya padanya. Mungkin itulah saat terakhir kali dia bisa mengucapkan namanya dan berusaha meyakinkan bahwa dia masih benar-benar dia.Dia yang memiliki nama itu, yang pernah hidup di dunia.. Tapi terlupakan dan kemudian akan dilupakan.
Sampai pada akhirnya rasa sakit itu semakin menguasai dirinya, bukan hanya di hati, namun juga di pikirannya. Itu pertama kalinya dia menangis. Selama ini dia berusaha untuk menjadi kuat. Tapi pada akhirnya air mata itu jatuh juga. Air mata bercampur dengan darahnya.
Terakhir sebelum menutup mata dia tuliskan kata I'm sorry, God, dan jiwanya kini benar-benar pergi.
Rintik-rintik hujan membasahi tanah pemakaman. Air mata dari kerabat dan keluarga sudah tidak berarti apa-apa. Satu nyawa telah hilang. Satu jiwa yang merindukan kehadiran seseorang yang bisa dipercayai telah tiada. Tinggal sesal yang ada karena tidak ada di sisinya ketika dia membutuhkan seseorang untuk merengkuhnya.
Pada nisan tertulis.
Aleatta Adinata
Lahir : 06 Februari 1990
Meninggal: 03 Maret 2012
Kadang kita tidak pernah tahu ada seseorang yang sangat membutuhkan kehadiran kita untuk menemani kesepiannya. Kita hanya perduli pada diri sendiri. Berpikir bahwa.. Kita juga punya masalah.. Masalah kita lebih besar dari yang dia punya, tapi kita masih bisa mengatasinya, kenapa dia tidak?
Sayang sekali jika ada pemikiran seperti itu. Kehadiran kita untuk seseorang yang membutuhkan dukungan sangat besar manfaatnya bagi dia yang membutuhkan dukungan dalam kehidupannya. Sekecil apapun dukungan yang kita berikan.. Itu akan memberikan secercah cahaya untuknya. Seseorang yang tengah berada di dalam kegelapan membutuhkan satu cahaya untuk bisa meneranginya, sehingga dia bisa melihat mana dimana jalannya berada, tanpa cahaya itu, maka dia akan merasa pengap. Jika tidak ada seseorang yang menuntunya untuk keluar dari kegelapan itu, maka dia tidak akan bisa keluar dari kegelapan itu. Terlebih jika dia dalam tahap yang luar biasa putus asa dan depresi.
Dulu gw pernah memiliki teman yang meninggal karena bunuh diri. Gw tau bener apa yang dia rasain. Dia butuh kehadiran seseorang. Cukup satu orang saja yang bisa selalu ada untuknya, yang bisa menjadi teman ceritanya, teman untuk berbagi. Tempat dia menuangkan segala kesedihannya, tempat dia bisa menangis, dan menjadi diri dia apa adanya. Yang bisa mengerti kenapa dia marah, kenapa dia menangis, yang tidak menyalahkannya ketika dia merasa bahwa segala sesuatu adalah salah dalam dunianya, yang mampu menjadi pendengar yang baik untuk kemudian menunjukan padanya bahwa segala sesuatu itu tidak buruk seperti apa yang dia lihat. Seseorang yang bisa memberikan dukungan positif untuknya. Dia dalam keadaan sedih, marah, hingga dalam tahap putus asa yang luar biasa sekalipun, dia punya satu orang yang selalu ada disampingnya. Tapi mungkin dia tidak memiliki itu. Mungkin banyak teman-teman di sekitarnya, tapi adakah satu orang dari mereka yang selalu ada untuknya? Gw menyesali diri gw yang ingin selalu ada untuknya, tapi tidak bisa memberi kepercayaan padanya bahwa gw bisa untuk selalu ada untuknya... Gw berharap gw gak kehilangan satu orang lagi karena itu.
Betapa rapuhnya jiwa manusia. Betapa mudahnya manusia diombang-ambingkan oleh situasi dan perubahan lingkungan yang ada, dan kemana manusia akan berlindung ketika dia membutuhkan bantuan??
Tuhan jawabannya.. Tuhanlah penyelamat satu-satunya yang mampu mengobati segala luka dan kesendirian, tapi terkadang ketika manusia sungguh berada di dalam kegelapan yang pekat, manusia tidak bisa melihat apa-apa, termasuk Tuhan yang selalu berada di dalam hatinya..
Dimanapun dan kapanpun berada ingatlah pada Tuhan mu. Dia lah penyembuh, Dia lah sahabat yang terbaik. Untuk gw.. dan kalian yang baca blog gw.. Semoga kita bisa jadi cahaya untuk orang-orang yang berada di dalam kegelapan.
Untuk temen gw yang sudah meninggalkan gw selama-lamanya kurang lebih dua tahun lalu. Lu akan selalu jadi saudara perempuan gw. Lu cantik, lu manis, lu baik.. gw pengen ketemu lu suatu hari nanti dan saat itu lu adalah seorang malaikat yang menjadi penghibur setiap orang yang berduka.
Life still go on.