Untuk kesekian kalinya gw jatuh cinta, dan cinta yang kali ini gw rasakan adalah cinta yang sangat berbeda. Bukan cinta yang didasarkan pada keadaan fisik seseorang, tapi gw bener-bener jatuh cinta pada pemikiran seseorang yang begitu liar namun tetap terarah pada satu tujuan. Disini gw menilai tujuannya adalah "makna kehidupan". Namanya Paulo Coelho. Gw jatuh cinta sama pemikiran, gagasan berbagai hal yang dituliskan oleh beliau dalam setiap karyanya. Sejak buku keduanya yang gw baca, The Alchemist, gw tahu bahwa gw memiliki pemikiran dan pencarian yang sama dengannya. Setiap saat ketika gw sedih, senang, marah, gw tumpahkan itu dalam puisi-puisi untuk menemukan seperti apa kedalaman sisi jiwa manusia, ternyata Paulo Coelho mampu memberikan jawaban itu secara gamblang dimana gw menuliskannya dalam kiasan-kiasan yang gw sendiri belum bisa menerjemahkannya secara nyata, cukup gw rasakan apa yang gw alami :)
Terima kasih pada Paulo Coelho, dan gw bersyukur sama Tuhan karena telah menciptakan seorang penulis jenius seperti beliau. Apa yang dituliskannya bukan sekedar fiksi yang hanyalah menjadi sekedar mimpi belaka, namun di balik setiap tulisan yang dibuatnya, tersimpan mimpi yang bisa diraih oleh siapapun melalui semangat dan motivasi yang telah ditanamkannya dalam setiap karya-karyanya. Adorable!!!

Awalnya gw berpikir Paulo Coelho hanyalah seorang penulis dengan cerita-cerita luar biasa yang mengena di dalam kehidupan gw, tapi setelah gw membaca bukunya yang berjudul Seperti Sungai yang Mengalir, pandangan gw berbeda. Gw menjadi lebih terbuka lagi tentang dirinya. Dia adalah seorang motivator handal yang memotivasi orang-orang dengan cerita-ceritanya yang belum pernah gw temui dimanapun.
Pada awal halaman bukunya dia mendefiniskan seperti apa pengarang itu. Definisinya tentang pengarang membuat gw tersenyum di dalam bis, ketika gw udah ga sabar buat ngebuka plastik pembungkus novel itu.
Ada beberapa poin yang dijabarkan oleh beliau tentang definisi seorang pengarang, tapi disini gw akan memberikan salah satu point yang paling mengena bagi gw:
b) seorang pengarang mempunyai tugas dan kewajiban untuk tidak bisa dipahami oleh generasinya sendiri; dia yakin dirinya dilahirkan pada masa-masa yang tidak bermutu, dia percaya bahwa kalau dirinya gampang dimengerti, maka hilang sudah kesempatannya untuk dianggap sebagai seorang genius. Seorang pengarang merevisi dan menulis ulang setiap kalimatnya berulang kali. Orang rata-rata memiliki perbendaharaan tiga ribu kosa kata; pengarang sejati tidak pernah menggunakan satu pun kata tersebut, sebab ada seratus delapan puluh sembilan ribu kata lainnya di dalam kamus, dan dia bukanlah orang yang hanya rata-rata saja.
-Seperti Sungai yang Mengalir, hal xii-
:)
Ketika gw sedang mengalami kejadian yang paling membuat gw
down di dalam kehidupan, dan gw merasa gw gak bisa
move on, pilihan gw gak salah kalo gw jalan ke Gramedia dan membeli novel karya Paulo Coelho. Tadinya gw mau membeli buku berjudul Brida yang mengisahkan tetang cinta, tapi buku itu gak gw temuin di Gramedia Blok M, gw malah menemukan buku Paulo Coelho yang lain, yang gw baca sekarang ini -Seperti Sungai yang Mengalir-. Tapi mau buku apapun itu selama Paulo Coelho yang menciptakan, itu akan mempengaruhi visi gw untuk ke depannya.
Seperti salah satu tulisan yang dimuat di dalam buku ini berjudul ....
Kisah Sebatang Pensil.
Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya,
"Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita tentang aku?"
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya,
"Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata-kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah-mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti."
Si anak lelaki merasa heran; diamat-amatinya pensil itu. Kelihatannya biasa saja.
"Tapi pensil itu sama saja dengan pensil-pensil lain yang pernah kulihat!"
"Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.
"Pertama, kau sanggup melakukan hal-hal besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan, dan Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
"Kedua: sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu menjadi orang yang lebih baik.
"Ketiga: Pensil ini tidak keberatan kalau kita mau menggunakan penghapus ini untuk mengapus kesalahan-kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa-apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berda di jalan yang benar untuk memperoleh keadilan.
"Keempat: yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
"Dan akhirnya, yang kelima: pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu. "
-Seperti Sungai yang Mengalir, hal 13-
:)
Sebuah pemikiran luar biasa dari sebatang pensil yang jika dipandang sekilas hanyalah suatu benda yang biasa saja.
Ketika hidup memberikan pandangan yang kelam untuk gw, gw membuka novel karya Paulo Coelho dan dia akan memberikan pandangan yang berbeda tentang kehidupan. Bahwa hidup bukanlah hanya sekedar untuk bernapas dan bertahan, namun juga harus memiliki rencana agar tetap bernapas dan bertahan. Tetap bernapas dan bertahan dengan jiwa yang kosong sama dengan hampa, mati. Namun bernapas dan bertahan dengan pengertian tentang makna hidup sebenarnya dan rencana yang matang untuk menjalani hidup, kita akan menjadi benar-benar mengalami "kehidupan."
Sama seperti salah satu tulisan Paulo Coelho yang berjudul Pedoman Mendaki Gunung. Disini gw akan share tentang poin-poinnya:
1. Pilihlah gunung yang hendak didaki (tentukan tujuanmu sendiri, jangan terpengaruh orang lain)
2. Belajarlah dari orang yang sudah pernah sampai kesana
3. Bahaya-bahaya setelah dilihat dari dekat bisa dikendalikan
4. Lanskapnya berubah-ubah jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya. (Fokus pada tujuan, tapi sambil mendaki, tidak ada salahnya sesekali menikmati perjalanan. Semakin tinggi mendaki, semakin jauh bisa melayangkan pandang. Pandangan yang didapat akan berbeda pada setiap ketinggian.)
5. Hormati tubuh anda. (Jangan terlalu memaksakan tubuh untuk cepat-cepat mendapatkan tujuan. Tubuh memiliki batas kemampuan pula.)
6. Hormati jiwa Anda. (Gunakan pikiran-pikiran positif yang membangun untuk mencapai tujuan.)
7. Bersiaplah untuk berjalan lebih jauh. (Terkadang kita merasa tujuan hampir tercapai, tapi ternyata perjalanan masih panjang.)
8. Bersukacitalah sesampainya di puncak.
9. Ikrarkan (Ikrarkan pada diri sendiri untuk mencapai tujuan lain lagi.)
10. Ceritakan kisah anda kepada orang lain.
-Seperti Sungai yang Mengalir, hal 15-
Buku ini belum selesai gw baca, baru beberapa cerita aja. Kalau gw share semuanya di blog gw akan begitu banyak hal yang gw tuliskan. Karya-karya Paulo Coelho sangat luar biasa. Membahas tentang buku-bukunya seperti membuka cakrawala baru buat gw, dan seperti "bernapas" kembali, atau bahkan menemukan jiwa lain yang tersembunyi di dalam diri yang gw sempat merasa sudah mati. Jiwa spiritualitas.
Jadilah seperti sungai yang mengalir,
Hening di kala malam.
Usah takut pada kegelapan.
Pantulkan bintang-bintang.
Jerlmakan pula awan-awan,
Sebab itulah air, tiada beda dengan sungai,
Maka pantulkan juga dengan suka cita,
Di kedalamanmu sendiri yang tentram.
-Manuel Bandeira-
Diambil dari novel Seperti Sungai yang Mengalir, Paulo Coelho