All about me and my own world !

I try to describe "me".Hope you enjoyed my world. If you don't like it exit button is over there. Thanks! :)

Jumat, 25 Mei 2012

Kali ini tentang Brida..

Brida.. buku yang sekarang lagi aku baca.. Buku yang bagus. Sebuah karya lagi dari Paulo Coelho, Sang Ksatria Cahaya :)


Aku merasakan bagaimana rasanya menjadi Brida. Bagaimana sulitnya menemukan Pasangan Jiwa. Kata Sang Magus, kita akan melihat setitik cahaya di pundak kiri Pasangan Jiwa kita. Akankah seperti itu? Hahaha..
Ya, ini hanyalah sebuah cerita fiktif.. tapi yang diambil dari pengalaman nyata yang berada di dalam perasaan dan jiwa sang pencipta.. Pengalaman yang mengajarkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang mendalam antara jiwa manusia dan alam semesta (itu yang selalu dibahas Paulo Coelho dalam setiap bukunya. )


Bagaimana aku merasakan menjadi Brida?
ialah saat aku katakan bahwa sangat sulit menemukan Pasangan Jiwa dan merasa aku sekarang adalah benar-benar Brida saat dia mengatakan.. " Aku takut berkomitmen kepad diriku sendiri."

dan dia pun merasakan bahwa.. "Bahkan dalam area terpenting dalam kehidupannya, cinta, ia gagal memaksa dirinya membuat komitmen. Setelah kekecewaan cinta pertamanya, dia tak pernah lagi menyerahkan diri sepenuhnya. Ia takut pada rasa sakit, kehilangan, dan perpisahan. Hal-hal ini tak dapat dihindari sepanjang jalan menuju cinta, dan satu-satunya cara menghindari semua itu adalah dengan memutuskan untuk tidak mengambil jalan itu sama sekali. Supaya tak perlu menderita, kau harus menolak cinta. Rasanya seperti mencungkil keluar matamu sendiri supaya tak perlu melihat hal-hal buruk dalam hidup.. "


Ya. Rasanya aku harus "mencungkil keluar mataku", menolak cinta. Entah sampai kapan.. Biar aku selesaikan dulu buku ini.. Mungkin nanti aku akan menemukan jawabannya. Apa yang dialami oleh Brida, aku juga mengalaminya, dan semoga saja akhir dari buku ini memberikan jawaban untukku.


Sepenggal dialog tertulis dalam sinopsis tentang buku ini.

Semua orang memiliki "Takdir" yang harus dijalani

"Tapi bagaimana caraku mengetahui siapa Pasangan Jiwa-ku?" tanya Brida.
"Dengan mengambil resiko kegagalan, kekecewaan, kehilangan arah, tapi tak pernah berhenti dalam pencariamu menuju Cinta."


Cinta. Ditulis dengan "C" besar.. menyatakan betapa berharganya hal itu. Bukan cinta, tapi Cinta. Bisa dilihat perbedaannya? cinta yang hanya sekedar kata-kata dan palsu, dan Cinta yang dirasakan dalam hati secara tulus, menyatu dalam satu jiwa yang dirasakan oleh dua insan yang berbeda dan kemudian mengalir kedalam setiap hembusan napas, detak jantung, denyut nadi. Menjadi satu kesatuan yang utuh. Cinta itulah yang diagungkan.


Aku mengerti kata-kata dalam dialog terakhir, tapi penyelesaiannya,  bagaimana Brida akan menyikapi hal itu? Brida dan aku serupa dalam satu jiwa.. :)


Doa dari Brida ketika aku merasakan hal yang sama..

"Tuhan, bantu aku memahami semua hal indah yang terjadi dalam hidupku karena aku layak mengalaminya. Bantu aku memahami bahwa yang menggerakkanku untuk mencari kebenaran-Mu adalah kekuatan yang sama dengan yang telah menggerakan para orang kudus, dan bahwa keraguan yang kumiliki sama dengan yang mereka miliki, dan segala kerapuhanku sama dengan kerapuhan mereka. Bantu aku menjadi cukup rendah hati untuk menerima aku tidak berbeda dari orang lain. Amin"

-Brida by Paulo Coelho-
hal. 96


Paulo mengatakan dalam perbincangannya dengan Juan Arias bahwa Brida adalah sisi feminitas nya yang dimanifestasikan menjadi seorang gadis cantik yang ingin menemukan pasangan jiwanya. Kekuatan, kelembutan, kegoyahan hati dalam pencarian, keinginan untuk menemukan Pasangan Jiwa, itulah yang dirasakan oleh Paulo Coelho. Tanpa sisi feminitas, Paulo Coelho tidak akan mampu menciptakan karya yang luar biasa. Karena sisi feminitas mengajarkan untuk merasakan suatu perasaan yang mendalam.. Seperti seorang ibu yang mencintai anaknya.. Aku rasa seperti itulah Paulo Coelho mencintai karya-karyanya. Pada akhirnya "anak-anak"nya telah menjadi sesuatu yang luar biasa..


Setiap manusia akan mengalami Malam Kelam. 
Dan aku akan melaluinya.. 






Jumat, 11 Mei 2012

Tentang aku dan penulis yang kukagumi

Terkadang aku berpikir.. setiap permasalahan yang terjadi di hidupku akan menguatkan aku. Semuanya akan membuatku menjadi lebih baik dari sekarang, tapi mengapa aku tidak bisa melihat bahwa itu telah menguatkan aku? Malah semakin melemahkan diriku. Atau hanyalah perasaanku saja?


Paulo Coelho..
Aku merasa bahwa dalam setiap cerita yang dikisahkannya, dia juga mengalami hal-hal yang sama denganku. Ketidakpastian, merasa terombang-ambingkan oleh keadaan, tidak menyadari adanya 'ksatria cahaya' yang berada di dalam jiwa, kemarahan, kebimbangan untuk mengambil keputusan, merasa kalah dan merasa tidak yakin untuk melakukan suatu hal. Tapi pada akhirnya dia mampu melahirkan karya-karya yang sangat luar biasa.. dan kapan dia menciptakan itu? Ketika dia berhasil mengatasi semuanya.. Mengatasi hal-hal yang telah aku sebutkan diatas.. Dalam kesendirian, ketidakpastian, dia menemukan celah lain dalam dirinya yang kemudian membawanya kepada pengetahuan yang berkaitan dengan alam semesta.. Bahwa di dalam diri manusia memiliki alam semesta.. Manusia memiliki keterikan dengan alam, bumi sebagai ibu. Ya.. Rasanya seperti... menemukan kebahagiaan yang tiada tara ketika menyadari bahwa alam semesta mendukung aku untuk memiliki apa yang aku inginkan. Paulo Coelho mengajarkan itu padaku. Aku sangat memujanya, memuja pemikiran-pemikirannya yang akan dianggap diluar nalar oleh orang-orang yang tidak mau melihat ke dalam dirinya, yang tidak menyadari bahwa di dalam dirinya tersimpan kekuatan luar biasa yang telah dibekalkan kepada setiap manusia sejak dia adalah embrio. Luar biasa.. :) Pemikiran yang sangat luar biasa dari seorang penulis yang tidak pernah aku temui sebelumnya.

Saat ini perasaanku menggebu-gebu.. Aku teracuni oleh karya-karyanya, oleh setiap buah pemikirannya, dari kata-kata yang paling sederhana hingga kata-kata sulit yang tidak bisa ditangkap secara gamblang, tapi jiwaku telah memaknainya.. Aku merasakan apa yang dirasakan oleh Paulo Coelho.. Aku mencari dan mencoba menemukan jawabannya, dia mencari dan telah menemukan jawabannya.. Jawaban itu berasal dari pengalaman-pengalaman di dalam hidupnya, diolah di dalam batin dan kemudian dikeluarkan menjadi buah-buah pikirannya yang memotivasi hidupku. Talenta yang sungguh luar biasa..

Kapan kiranya aku bisa melalui ini semua dan menjadi bijaksana sepertinya? Dalam setiap tulisannya, dia menyampaikan segala pengalaman hidupnya dengan bahasa yang rendah hati.. dengan kata-kata yang -menurutku- mudah dimengerti, dengan bantuan para malaikat yang membimbing pikirannya dan tangan-tangannya untuk menghasilkan karya-karya yang tidak akan pernah mati di dalam hati para pembacanya.. Aku ingin bisa seperti itu, menghasilkan  buah-buah pemikiran yang luar biasa, yang membuatku mengerti untuk apa aku bernapas hari ini? Untuk apa aku bergerak? Untuk apa aku bertindak? Mana yang harus aku pilih? Jalan ini atau itu? Yang ramai atau yang sepi? Yang berbatu-batu ataukah yang mulus? Aku ingin.. Aku telah mengalami hal-hal yang dialami Paulo Coelho, yang telah diceritakannya melalui setiap karyanya, tapi kapan aku bisa menghasilkan karya seperti itu? Apakah jiwaku belum terlalu peka untuk bisa merasakan semua perubahan ini? Dan kemudian apakah hatiku masih belum mampu untuk menciptakan kata-kata seindah itu? Ya, mungkin aku butuh waktu. Aku masih muda, jalanku masih panjang, pengalamanku belum terlalu banyak seperti yang telah dialami oleh beliau. Mungkin aku butuh banyak waktu untuk bisa menjadi sepertinya..

Aku sangat mengaguminya..

Beberapa hari lalu kekasih yang telah menjalin hubungan bersamaku selama 3 tahun memutuskan hubungan kami, dan aku merasa sangat kehilangan, hingga merasa bahwa semuanya akan berubah. Rencana-rencanaku ke depan, semua hal yang akan aku jalani setiap harinya.. Tapi kata-kata bijak dari beliau membuka hati dan jiwaku bahwa.. Aku tidak akan mengubah jalan hidupku, tidak akan mengubah apa yang telah aku rancangkan sebelumnya, karena aku telah kehilangan satu batu bata. Aku tidak akan mengubah rancangan 'rumahku' namun aku akan menggantinya dengan yang lain.. :)

Kehilangan satu batu bata tidak berarti apa-apa. Kehilangan satu hal di dalam hidup tidak akan mengubah keseluruhan dari hidupku...


- dan karena Tuhan berkenan, maka dia perkenalkan aku pada setiap karya-karya Paulo Coelho agar melalui karya-karyanya Dia bisa membimbing aku agar aku percaya bahwa apa yang terjadi di dalam hidupku semuanya adalah proses, dan suatu hari jiwaku akan peka akan kekuatan semesta yang membangun, dan jiwa ilahi yang telah bersemayam dalam hatiku -


:)



Kamis, 10 Mei 2012

Seperti Sungai yang Mengalir by Paulo Coelho -- Cool book! :)

Untuk kesekian kalinya gw jatuh cinta, dan cinta yang kali ini gw rasakan adalah cinta yang sangat berbeda. Bukan cinta yang didasarkan pada keadaan fisik seseorang, tapi gw bener-bener jatuh cinta pada pemikiran seseorang yang begitu liar namun tetap terarah pada satu tujuan. Disini gw menilai tujuannya adalah "makna kehidupan". Namanya Paulo Coelho. Gw jatuh cinta sama pemikiran, gagasan berbagai hal yang dituliskan oleh beliau dalam setiap karyanya. Sejak buku keduanya yang gw baca, The Alchemist, gw tahu bahwa gw memiliki pemikiran dan pencarian yang sama dengannya. Setiap saat ketika gw sedih, senang, marah, gw tumpahkan itu dalam puisi-puisi untuk menemukan seperti apa kedalaman sisi jiwa manusia, ternyata Paulo Coelho mampu memberikan jawaban itu secara gamblang dimana gw menuliskannya dalam kiasan-kiasan yang gw sendiri belum bisa menerjemahkannya secara nyata, cukup gw rasakan apa yang gw alami :)


Terima kasih pada Paulo Coelho, dan gw bersyukur sama Tuhan karena telah menciptakan seorang penulis jenius seperti beliau. Apa yang dituliskannya bukan sekedar fiksi yang hanyalah menjadi sekedar mimpi belaka, namun di balik setiap tulisan yang dibuatnya, tersimpan mimpi yang bisa diraih oleh siapapun melalui semangat dan motivasi yang telah ditanamkannya dalam setiap karya-karyanya. Adorable!!!

Awalnya gw berpikir Paulo Coelho hanyalah seorang penulis dengan cerita-cerita luar biasa yang mengena di dalam kehidupan gw, tapi setelah gw membaca bukunya yang berjudul Seperti Sungai yang Mengalir, pandangan gw berbeda. Gw menjadi lebih terbuka lagi tentang dirinya. Dia adalah seorang  motivator handal yang memotivasi orang-orang dengan cerita-ceritanya yang belum pernah gw temui dimanapun.

Pada awal halaman bukunya dia mendefiniskan seperti apa pengarang itu. Definisinya tentang pengarang membuat gw tersenyum di dalam bis, ketika gw udah ga sabar buat ngebuka plastik pembungkus novel itu.
Ada beberapa poin yang dijabarkan oleh beliau tentang definisi seorang pengarang, tapi disini gw akan memberikan salah satu point yang paling mengena bagi gw:


b) seorang pengarang mempunyai tugas dan kewajiban untuk tidak bisa dipahami oleh generasinya sendiri; dia yakin dirinya dilahirkan pada masa-masa yang tidak bermutu, dia percaya bahwa kalau dirinya gampang dimengerti, maka hilang sudah kesempatannya untuk dianggap sebagai seorang genius. Seorang pengarang merevisi dan menulis ulang setiap kalimatnya berulang kali. Orang rata-rata memiliki perbendaharaan tiga ribu kosa kata; pengarang sejati tidak pernah menggunakan satu pun kata tersebut, sebab ada seratus delapan puluh sembilan ribu kata lainnya di dalam kamus, dan dia bukanlah orang yang hanya rata-rata saja.
-Seperti Sungai yang Mengalir, hal xii-


:)


Ketika gw sedang mengalami kejadian yang paling membuat gw down di dalam kehidupan, dan gw merasa gw gak bisa move on, pilihan gw gak salah kalo gw jalan ke Gramedia dan membeli novel karya Paulo Coelho. Tadinya gw mau membeli buku berjudul Brida yang mengisahkan tetang cinta, tapi buku itu gak gw temuin di Gramedia Blok M, gw malah menemukan buku Paulo Coelho yang lain, yang gw baca sekarang ini -Seperti Sungai yang Mengalir-. Tapi mau buku apapun itu selama Paulo Coelho yang menciptakan, itu akan mempengaruhi visi gw untuk ke depannya.

Seperti salah satu tulisan yang dimuat di dalam buku ini berjudul ....


Kisah Sebatang Pensil. 


Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya,
"Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita tentang aku?"
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, 
"Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata-kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah-mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti."
Si anak lelaki  merasa heran; diamat-amatinya pensil itu. Kelihatannya biasa saja. 
"Tapi pensil itu sama saja dengan pensil-pensil lain yang pernah kulihat!"
"Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani  hidupmu. 
"Pertama, kau sanggup melakukan hal-hal  besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan, dan Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
"Kedua: sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu menjadi orang yang lebih baik. 
"Ketiga: Pensil ini tidak keberatan kalau kita mau menggunakan penghapus ini untuk mengapus kesalahan-kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa-apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berda di jalan yang benar untuk memperoleh keadilan.
"Keempat: yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
"Dan akhirnya, yang kelima: pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu. "
-Seperti Sungai yang Mengalir, hal 13-


:)

Sebuah pemikiran luar biasa dari sebatang pensil yang jika dipandang sekilas hanyalah suatu benda yang biasa saja.

Ketika hidup memberikan pandangan yang kelam untuk gw, gw membuka novel karya Paulo Coelho dan dia akan memberikan pandangan yang berbeda tentang kehidupan. Bahwa hidup bukanlah hanya sekedar untuk bernapas dan bertahan, namun juga harus memiliki rencana agar tetap bernapas dan bertahan. Tetap bernapas dan bertahan dengan jiwa yang kosong sama dengan hampa, mati. Namun bernapas dan bertahan dengan pengertian tentang makna hidup sebenarnya dan rencana yang matang untuk menjalani hidup, kita akan menjadi benar-benar mengalami "kehidupan."


Sama seperti salah satu tulisan Paulo Coelho yang berjudul Pedoman Mendaki Gunung. Disini gw akan share tentang poin-poinnya:
1. Pilihlah gunung yang hendak didaki (tentukan tujuanmu sendiri, jangan terpengaruh orang lain)
2. Belajarlah dari orang yang sudah pernah sampai kesana
3. Bahaya-bahaya setelah dilihat dari dekat bisa dikendalikan
4. Lanskapnya berubah-ubah jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya. (Fokus pada tujuan, tapi sambil mendaki, tidak ada salahnya sesekali menikmati perjalanan. Semakin tinggi mendaki, semakin jauh bisa melayangkan pandang. Pandangan yang didapat akan berbeda pada setiap ketinggian.)
5. Hormati tubuh anda. (Jangan terlalu memaksakan tubuh untuk cepat-cepat mendapatkan tujuan. Tubuh memiliki batas kemampuan pula.)
6. Hormati jiwa Anda. (Gunakan pikiran-pikiran positif yang membangun untuk mencapai tujuan.)
7. Bersiaplah untuk berjalan lebih jauh. (Terkadang kita merasa tujuan hampir tercapai, tapi ternyata perjalanan masih panjang.)
8. Bersukacitalah sesampainya di puncak.
9. Ikrarkan (Ikrarkan pada diri sendiri untuk mencapai tujuan lain lagi.)
10. Ceritakan kisah anda kepada orang lain.
-Seperti Sungai yang Mengalir, hal 15-


Buku ini belum selesai gw baca, baru beberapa cerita aja. Kalau gw share semuanya di blog gw akan begitu banyak hal yang gw tuliskan. Karya-karya Paulo Coelho sangat luar biasa. Membahas tentang buku-bukunya seperti membuka cakrawala baru buat gw, dan seperti "bernapas" kembali, atau bahkan menemukan jiwa lain yang tersembunyi di dalam diri yang gw sempat merasa sudah mati. Jiwa spiritualitas.



Jadilah seperti sungai yang mengalir,
Hening di kala malam.
Usah takut pada kegelapan.
Pantulkan bintang-bintang.
Jerlmakan pula awan-awan,
Sebab itulah air, tiada beda dengan sungai,
Maka pantulkan juga dengan suka cita,
Di kedalamanmu sendiri yang tentram.

-Manuel Bandeira-
Diambil dari novel Seperti Sungai yang Mengalir, Paulo Coelho