Setiap malem, sebelum tidur, gw sempet-sempetin dulu baca detik.com, kompas.com, cari berita tentang Jokowi-Ahok dan lawan politiknya. Sudah sejauh mana mereka mendapatkan dukungan dari rakyat. Sejauh ini gw menyadari bahwa Jokowi-Ahok lah yang banyak mendapatkan simpati rakyat.
Fenomena Jokowi-Ahok ini benar-benar menjadi hal yang baru di Jakarta. Setelah Pak Jokowi berhasil membangun kota Solo dan menjadi salah satu dari walikota terbaik di dunia, Pak Jokowi pun maju menjadi salah satu calon gubernur Jakarta. Melihat prestasinya terdahulu gw berpendapat hampir 100 % kalo nantinya Pak Jokowi akan memajukan Jakarta juga. Mungkin akan ada banyak pro dan kontra yang terjadi jika nanti beliau menjabat. Kita bisa bercermin pada situasi sekarang, dimana ketika masih pencalonan pun sudah banyak terjadi isu-isu yang tidak benar yang menimpa pasangan calon Jokowi-Ahok. Isu SARA, Isu money politic, bahkan yang terbaru ini terjadi fitnah yang menimpa Jokowi dan kedua orang tuanya. Sangat disayangkan jika hal itu tidak bisa diselesaikan oleh Panwaslu, padahal tugas Panwaslu adalah mengawasi jalannya kampanye, dan juga mengendalikan situasi yang terjadi selama masa tenang menuju putaran kedua pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Ya.. setiap orang punya pendapatnya masing-masing sih, sebenarnya bisa dikatakan bersalah atau tidak mengenai dakwah yang disampaikan oleh Haji Rhoma Irama di salah satu masjid di Tanjung Duren, dan apakah bisa dibenarkan "guyonan" Bapak Fauzi Bowo yang disampaikan ketika mengunjungi korban kebakaran di Karet Tengsin?
Membaca berita tentang kedua kasus tersebut (dakwah Haji Rhoma Irama dan guyonan Bapak Fauzi Bowo) di media-media internet, gw jadi gak nyaman sama situasi yang terjadi. Apakah tidak bisa dilakukan dengan cara yang sehat. Gw mau mengutip kata-kata Pak Jokowi.. bahwa disini seharusnya yang dijadikan adalah pertarungan visi dan misi untuk membangun kota Jakarta, bukannya menggunakan cara-cara yang tidak baik seperti isu SARA dan isu money politic yang kabarnya dilakukan oleh pihak Jokowi-Ahok.
Kesal? Iya sih. Kesal juga.. Kenapa ya, kalo ada orang baik yang ingin mengadakan suatu perubahan pasti ditentang secara besar-besaran oleh kaum-kaum elite politik?
Come on! Ini masa demokrasi. Katanya kita sudah merdeka? Tapi kenapa rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Jakarta belum bisa mendapatkan segala sesuatu yang menjadi hak mereka? Seperti tempat yang nyaman untuk berdagang bagi para pedagang kaki lima. Yang terjadi adalah satpol PP mengusir mereka dan menghancurkan barang dagangan mereka. Seharusnya mereka diberikan tempat yang layak untuk berdagang, bukannya dibiarkan saja sehingga menjadi pedagang liar kemudian diusir secara semena-mena. Itupun yang terjadi ketika melakukan penggusuran rumah-rumah di kawasan kumuh. Ada air mata, ada teriakan, ada sumpah serapah. Cuman bisa ngelus dada, melihat hal yang seperti itu terjadi. Ini Indonesia? Benar ini Indonesia? Yang katanya sudah merdeka?
Yang gw lihat kita malah dijajah sama bangsa sendiri.. Miris.
Kemana saja pemerintah Jakarta selama ini? Dimana peran sertanya untuk mensejahterakan masyarakat Jakarta?
Ngomongin itu ga ada habisnya.. Sekarang untuk yang berpikiran terbuka adalah.. "Bagaimana cara memperbaiki tatanan kota Jakarta yang semerawut?"
Ketika kita menemukan jalan baru untuk mencoba adanya perubahan itu kenapa enggak?
Gw bukan timses Jokowi-Ahok yang dibayar.. Gw hanyalah rakyat biasa yang sudah bosan dengan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri, dan sudah bosan dengan pemerkosaan hak-hak yang terjadi secara terus menerus, dan dengan sukarela gw mendukung Jokowi-Ahok untuk Jakarta Baru, untuk perubahan yang akan menjadikan Jakarta menjadi lebih baik dari sebelumnya. Inget loh, Jakarta adalah sebuah ibukota. Jika Jakarta mampu mengembangkan dirinya dan menjadi sebuah kota megapolitan dengan tatakota yang baik, maka kota-kota yang lain niscaya akan mengikuti jejak kota Jakarta. Amin.
Tanggal 20 September masih beberapa minggu lagi, namun sekarang telah terbentuk 2 kubu di Jakarta sejak beberapa waktu lalu dan semakin menguat ketika mendekati hari putaran kedua pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Kubu Partai Politik vs Kubu Rakyat Jakarta yang merindukan perubahan.
Jokowi-Ahok benar-benar menjadi sebuah fenomena di Jakarta. Sikap rendah hati, pro rakyat, pemaaf, nrimo , nguwongke wong (memanusiakan manusia) menjadi sebuah hal yang luar biasa di kota Jakarta ini. Dimana ketika kita sudah mencap buruk para pejabat pemerintahan, Pak Jokowi dan Pak Ahok membawa atmosfir baru bagi kota Jakarta. Seperti air di padang yang tandus, atau secercah cahaya di tengah kegelapan :)
Sekarang saatnya rakyat merapatkan barisan dan mengadakan perubahan baru. Jokowi-Ahok tidak salah jika mereka memilih untuk berkoalisi dengan rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan, jika memang amanah itu diberikan pada Pak Jokowi dan Pak Ahok, niscaya mereka akan menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta selanjutnya.
Gak pake ba-bi-bu lagi, deh! Mendingan liat movie yang berikut ini untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok Jokowi-Ahok yang sekarang sedang jadi fenomena di Jakarta.
Jakarta Baru the Movie
Tambahan lagi, alasan kenapa gw milih Bapak Jokowi :
Jokowi Tak Suka Koalisi Simbolis (sumber detik.com)Jadikan tanggal 20 September nanti sebagai suatu hari penentuan "Siapa yang pantas menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta"
Gunakan hak suara yang kita miliki sebaik-baiknya berdasarkan hati nurani.
Kapan lagi akan terjadi perubahan jika kita sendiri tidak coba untuk merubahnya?
Silakan berpikir secara cerdas, siapa yang pantas di vote! :)
Bukankah keberhasilan sebuah kota atau bahkan negara tergantung oleh pemimpinnya?
Just ask to our heart, because we have chance for a big change..
Love Jakarta!